Balada Hijrahku
Dulu, saya paling
anti pakai rok, ah, apalagi pakai rok panjang, bakalan jadi ribet njelimet, susah mau beraktivitas. Ke
mana-mana suka pakai celana jeans yang
modelnya pensil. Lebih santai, simpel, pokoknya lebih gampang juga buat
dipadukan sama baju atasan apa saja. Biasanya, saya pakai kemeja yang
panjangnya tanggung, sampai pinggul, tidak menutupi bokong, pakai kerudung
tipis dan nerawang, serba ketat, serba kecil, serba-serbi kayak serabi, tapi nggak enak dilihat apalagi dimakan.
Beruntung saya
bertemu sama senior yang dengan susah payah menyesatkan, husttt, maksudnya
menyesatkan ke jalan yang benar. Setiap kali berpapasan, diajak untuk ikut
kajian, ikut diskusi, diarahkan untuk mentoring
atau
istilahnya liqo’, (baca:sekumpulan
beberapa perempuan dalam satu lingkaran untuk sama-sama belajar menambah
pengetahuan agama).Dan ikut kegiatan-kegitan sosial, amal, dan ibadah lainnya.
Setelah beberapa
kali ikut liqo’, keinginan untuk
ikut-ikutan berhijab mulai muncul, apalagi beberapa sohib saya sudah hijrah
alias sudah menutup aurat dengan rapat, mengenakan hijab dan pakaian syar’i.
Kadang, kalau lagi hangoutsaya jadi risih sama diri sendiri, duh, kayak
langit dan bumi, jauh sekali bedanya. Saya yang jadi upik abu, mereka yang jadi majikannya, semacam beda kasta, gitu.
Soalnya pakaian saya serba mini,
sedangkan pakaian mereka, longgar, tertutup rapi. Jadi merasa nggak sepadan.
Tapi, syukurnya, punya banyak sahabat yang memotivasi, mendukung, mengajak, supaya saya segera berhijrah seperti mereka.Dan akhirnya dengan Rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala saya memutuskan untuk sepenuhnya menutup aurat.
Sepekan berjalan dengan baik, ada banyak pujian yang berseliweran, serta ada banyak dukungan yang diberikan. Kami saling mengingatkan dan menguatkan.
![]() |
| Republika.co.id |
Namun, setelah
sepekan terlewati, saya kembali menggunakan celana jeans, saya padukan
dengan baju atasan yang panjang sampai menutupi bokong, alasannya sih karena
saya belum punya banyak pakaian syar’i. Jadi, celana jeans yang udah
disembunyikan di bawah kasur, saya ambil lagi, saya kenakan lagi, menjelma
seperti semula, kalau dipikir-pikir, dulu saya seperti power rangers ya, suka
berubah-ubah gitu, hehehe. Sampai akhirnya saya gunting semua celana
jeans saya, agar saat terbesit untuk mengenakannya lagi, hal itu tak mungkin
saya lakukan. Legah, setengah belenggu saya, seakan lepas, saya mulai
memantapkan hati lagi dan lagi. Dan tentunya, semakin berhemat, mengatur
pengeluaran dengan ketat, supaya bisa disisihkan untuk membeli keperluan
berhijab. Anak perantauan, memang punya kegalauan sendiri dalam mengatur
keuangan. Ayo yang anak kos, pastilah tau ya. Soalnya, sudah rahasia umum, sih.
Memang ya, diawal, selain ilmu, pemahaman, dan dukungan, berhijab juga butuh biaya, itu anggapan saya dulu, padahal yang lebih penting itu, kemantapan hati dalam membuat keputusan haruslah Lillahi Ta’ala, insyaAllah selalu ada jalan bersama-Nya. Kenapa sih kalau mengenakan pakaian yang sama beberapa kali dalam sepekan? Apa jadi bisulan? Apa menjatuhkan harga diri? atau, takut dibilang, kamu yang kemarin, karena pakai pakaian yang itu-itu saja? Ya, saya pernah dikata begitu, tinggal pasang muka tembok atau memekakan telinga, jadi nggak sampai dibawa ke hati. Itu cuma pikiran yang melemahkan, bisa jadi karena tipu daya syaitan. Yang penting pakaian bersih, rapi, dan masih layak pakai.
Nah, setelah merasa yakin, mantap, dan teguh pendirian, dalam berhijab, tetap
saja harus terus memperbaiki diri, belajar, dan meluruskan niat. Hakikatnya
iman itu bisa naik turun, jadi senantiasa harus disegarkan kembali.
Pernah saat siang,
panas terik, lagi musim kemarau panjang, waktu itu lagi di kampus, tiba-tiba
seorang teman nyeletuk.
“Eh, apa gak gerah,
siang bolong panasnya minta ampun gini pakai jilbab selebar ini? Kalau saya gak
bakalan tahan”. Tangannya sambil menyentuh jilbab saya.
Spontan saya balas,
dengan kata-kata yang nggak kalah menyakitkannya, melampiaskan kekesalan.
“Jauh lebih panas
api neraka 1000 kali lipat, ini mah belum ada apa-apanya, kamu gak bakalan
sanggup di neraka”.
Kala itu, saya belum mampu mengendalikan diri, untuk bersikap tenang dan sewajarnya. Makhlum masih beranjak dewasa, kalau menurut teori perkembangan yang saya pelajari, masa pubertas itu masa peralihan yang penuh dengan kebimbangan dan labil. (ngeles)
Menjadi seorang muslimah yang sedang berbenah diri memang tidak mudah, nggak jarang ada anggapan negatif, celaan, dan ucapan serta sikap yang melemahkan dari sekitar. Terlebih lagi jika datangnya dari keluarga sendiri, rasanya lebih sakit. Seperti saya, mulanya kedua orangtua nggak mendukung. Mereka khawatir kalau saya justru tersesat dengan aliran islam radikal.
Kadang karena
kurangnya pemahaman menjadikan seseorang bisa salah dalam memaknai dan
menyimpulkan. Barangkali, itulah sebab kedua orangtua saya seolah nggak mendukung sepenuhnya tentang keputusan saya berhijab. Namun Alhamdulillahnya,
situasi sekarang berubah. Kedua orangtua merupakan salah
satu sumber kekuatan untuk menjadi seorang yang lebih baik lagi. Mereka
sepenuhnya memberikan dukungan. Maka, nikmat Tuhan kamu yang
mana lagi yang kamu dustakan? Dan saya meyakini satu hal, semakin getir
perjuangan, semakin manis hasil yang diperoleh.
Setelah tamat
kuliah, saya bekerja di sebuah perusahaan swasta, satu prinsip yang saya
pegang. Sesungguhnya rejeki itu datangnya hanya dari Allah, maka tiada yang
bisa memberikan rejeki kepada saya kecuali atas kehendak-Nya. Jadi, sekiranya
apa saja yang akan meruntuhkan prinsip yang sudah saya bangun, maka saya sudah
mempersiapkan diri untuk keluar. Diantaranya prinsip itu adalah apapun yang terjadi saya tetap berhijab, nggak tabaruj, tidak salaman dengan lelaki yang bukan mahram.
Pengalaman, bebeapa rekan di kantor, mempermasalahkan tentang saya yang selalu mengenakan rok, atas nama kebersamaan saya dikritisi saat ada kesepakatan dresscode yang memakai celana. Sampai
dipersoalkan ke pimpinan. Syukurnya Beliau menghormati prinsip saya.
Selain itu, ada
rintangan lain. Mungkin karena saya dianggap sebuah ancaman, makanya responnya
agak berlebihan. Padahal saya bukan preman jalanan, malah, muka saya semanis
madu, yang sama sekali tak menyeramkan, justru meneduhkan, hihihi, payung kali,
ah. Seorang rekan yang dia lagi, dia lagi. Seolah, meminta saya untuk tidak
menunjukkan kemuslimah-an saya, lah piye
iki, kewajiban perempuan muslim, salah satunya, ya menutup aurat, dari
kepala sampai kaki, kecuali wajah dan telapak tangan yang boleh terlihat, masa
iya, saya harus jadi lelaki, menentang kodrat. Tak habis pikir, tuh orang
kelihatannya keki berat sama saya, padahal saya manusia biasa bukan artis yang lagi
naik daun.
Setiap orang
berkewajiban entah itu dia orang baik, atau setengah baik, saleh, atau setengah
saleh, untuk berdakwah, menyampaikan kebaikan dan kebenaran, walaupun cuma satu
ayat. Kita yang muslim sudah pada tau, hal itu.
Tetapi seorang rekan saya itu, bukan seorang muslim, makanya saya sering
tak ambil pusing, biar dia yang pusing sendiri mikirin saya.
Itu sepenggal cerita
dari saya,perjuangan belum berakhir atau bahkan baru akan dimulai.
Terpenting, jangan berhenti meminta kekuatan kepada Allah.
“Semoga saya dan
seluruh muslimah di dunia, yang akan dan sudah berhijab, senantiasa diberikan
kemantapan hati dan kekuatan untuk istiqomah, terus berbenah diri, sampai
mati”.
(Tulisan lama, pernah diikutsertakan dalam lomba)
#Lombamenulis
#Inspiringjilbab
#pasmirajilbabenak
#muslimahpreneur

Komentar
Posting Komentar